Gelombang demonstrasi selama satu bulan yang dipertontonkan oleh para pendukung legitmasi di Mesir telah menelan banyak korban. Perjuangan mereka, yang didukung oleh mayoritas rakyat Mesir, tampaknya masih membuat petinggi militer bergeming. Aksi damai mereka , malah dihadapi secara represif oleh militer dan polisi. Tercatat, lebih dari 200 orang telah menjadi korban kebiadaban tindakan represi tersebut. Begitupula militer yang bergeming dengan tindakan anarkisnya, massa pendukung legiimasi Moursipun tidak kalah tegar. Mereka tidak pernah meninggalkan medan demonstrasi bahkan sedetikpun. Mursyid 'am ikhwan bahkan menegaskan, mereka tidak akan meninggalkan medan aksi sampai mereka membawa Presiden sah mereka di atas pundak mereka daengan legitimasi yang dimilikinya. Bahkan, mereka tetap tegar dengan mempertahankan aksi damai dan menjauhi tindakan anarki, tidak seperti massa pro kudeta yang jelas-jelas menimbulkan kerusakan.
Pertanyaan berikutnya adalah, sampai kapan mereka akan bertahan? Kapankah pertolongan Alah datang unuk menolong mereka yang terzhalimi? Ada baiknya kita menengok barang sebentar, jejak-jejak pertolongan yang telah Allah berikan pada para Nabi. Pertama, kisah Rasululah saat perang Badar kubro. Pada saat itu, pasukan Rasulullah yang hanya sepertiga dari pasukan Quraisy, terdesak. Pasukan Rasulullah yang memang baru pertama kali itu menghadapi pertempuran besar, tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh Abu Jahal dan kawan-kawan yang memang sudah terbiasa, terlatih dan memang disiapkan untuk berperang. Sedangkan, pada saat itu, pasukan Rasulullah hanya dipersiapkan untuk menghadapi pasukan dagang yang dipimpin oleh Abu Sofyan.
Dalam keadaan terdesak, Rasulullah merintih dan berdo'a pada Allah. "Ya Allah seandainya pasukan ini kalah dan hancur, maka tidak akan pernah lagi Engkau disembah di muka bumi". Sebuah kepasrahan total kepada Allah setelah segala daya upaya dikerahkan. Seorang hamba yang paling dicintai Allah dan mengemban risalah suci kenabian, menangis merintih pada Kekasihnya. Maka kekasih mana yang akan berani menolak? Maka saat itulah pertolongan Allah datang. Alah menurunkan bala tentara malaikat-Nya dari langit. Allah menurunkan 5000 malaikat yang menolong Rasulullah saat itu dan membantu Rasulullah memenangkan Perang pertama melawan Kafir Quraisy. "Wama ramayta idz ramaiyta walakinnal rama". Saat itu, Rasulullah menaburkan pasir pada pasukan musuh, yang sejatinya Allahlah yang menaburkan pasir tersebut. Hingga pasukanmusuh lari tunggang langgang. Dan, kemenanganpun berada di pasukan Rasulullah. Bukan kali itu saja, Rasulullah merintih dan mengadu pada Allah. Pada saat beliau dilempari dan dikejar-kejar oleh kaum Thaif, sembari bersembunyi di sebuah kebun, Rasulullah merintih dan berdo'a. Do'a yang begitu syahdu dan indah, mengalir dari mulut sang kekasih kepada Kekasihnya yang menggenggam alam ini. Maka, siapakah yang sanggup menghalangi pertolongan Allah itu datang?
Kisah berikutnya adalah pertolongan yang diberikan Allah kepada Nabi Musa. Pada saat itu, Nabi Musa yang membawa kaum Bani Israil dikejar-kejar oleh pasukan bala tentara Fir'aun. Bani Israil bertanya-tanya pada Nabi Musa dan sampai meragukan pertolongan Allah dengan mengatakan, "Inna lamudrakun" kita akan tertangkap oleh pasukan Fir'aun. Ketika sudah tidak ada lagi jalan untuk berlari, di depan ada Laut Merah dan dibelakng ada pasukan Fir'aun mengejar. Sudah tidak ada lagi harapan kecuali pertolongan Allah. Ketawakkalan tingkat tinggi Nabi Musa saat itu mampu mengundang pertolongan Allah. Sehingga Allah mewahyukan untuk melemparkan tongkat Nabi Musa, dan terbelahlah Laut Merah sehingga Nabi Musa dan kaumnya selamat dari kejaran Fir'aun dan pasukannya. Bahkan, Fir'aun menemui ajalnya di Laut Merah tersebut.
Dua kisah di atas, adalah masterpiece fenomenal bagaimana pertolongan Allah datang kepada hambanya. Dari dua kisah tersebut, dapat kita ambil benang merahnya, bahwa pertolongan Allah datang ketika, pertama, kita sudah dalam kondisi terdesak dan tidak ada lagi jalan keluar yang secara kasat mata dan manusiawi kita dapatkan. Kedua, kita berada pada tingkat ketawakkalan yang begitu tinggi kepada Allah. Ketergantungan penuh atas pertolongan Allah. Ketiga, diiringi do'a-do'a yang begitu tulus, disertai rintihan yang dalam akan kepedihan dan tekanan yang begitu memuncak. Keempat, tentunya kita berada dalam sebuah perjuangan yang benar untuk menegakkan kalimat Allah, li i'laai kalilamtillah. Maka ketika syarat-syarat itu telah terpenuhi, tidak ada alasan lagi kita untuk berputus asa atas pertolngan Allah. Karena sejatinya, pertolongan Allah itu begitu dekat. Inna nashrallahi qariib. Maka, menilik pada indikasi-indikasi tersebut, saya melihat bahwa pertolongan Allah terhadap para mujahid pembela kebenaran, pendukung legitimasi Presiden Moursi di Mesir begitu dekat. Apalagi, perjuangan yg mereka lakukan, ialah di bilan Ramadhan yang mana bulan saatul ijabah. Mengenai bagaimana skenario pertolongan Allah datang pada mereka, kita akan mengetahuinya nanti. Itu mutlak hak prerogatif Allah. Alaa inna nashrallah qariib. Amin ya rabbal 'alamin, ya mujiibassaailin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar