Rabu, 21 Mei 2014

Dilema Syiah di Indonesia


                  Syiah adalah salah satu golongan yang sangat tua dalam khazanah dan literatur dunia Islam. Keberadaannya bersinggungan secara intens dengan paham jumhur Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah syiah banyak ditulis dan dipaparkan oleh para ahli dengan berbagai macam versi. Ada versi Syiah, ada pula versi Ahlussunnah. Keberadaan syiah sangat disandarkan pada sosok sahabat mulia, Sayyidina Ali ibn Abi Tahalib Karramallahu wajhah Radiyallahu Anhum. Kata syiah sendiri berasal dari frasa Syiah Ali, atau golongan Ali. Yang pada beberapa interpretasi terbagi dua –versi ahlussunnah- yaitu Syiah Ali generasi awal dan syiah Ali generasi berikutnya.Syiah generasi awal sebagaimana yang dijelaskan dalam buku yang ditulis oleh MUI baru-baru ini, adalah golongan yang setia pada khalifah yang sah saat itu melawan pihak Muawiyah dan hanya bersifat kultural. Sedangkan syiah generasi berikutnya bercorak aqidah dan memiliki doktrin-doktrin tersendiri yang banyak di antaranya bertentangan dengan doktrin muktabar Ahlusssunnah. Syiah Ali generasi pertama tidak ada yang menolak dan membenci 3 khalifah sebelum Ali dan berkeyakinan bahwa Ali lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasulullah daripada Abu Bakar dan Umar. Bahkan Ali sendiri ketika berkhotbah di Kufah menegaskan Hadits Nabi bahwa “Sebaik-baik Umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar dan Umar ra”[1] Tapi yang dilematis lagi kemudian, bahwa kaum syiah sekarang mereka tidak mengakui hadits yang tidak diriwayatkan oleh selain Ahlul Bait. Ini menjadi kerumitan tersendiri.
                Dalam Buku yang diterbitkan oleh MUI, di sana dijelaskan tentang 5 pokok kesesatan ajaran Syiah, yaitu 1) Penyimpangan paham tentang orisinalitas Alquran. Ulama Syiah Al Mufid dan Baqir Al Majlisi mengatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang telah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Ini jelas sangat bertentangan dengan Alquran sendiri yang mana Allah menegaskan bahwa Allahlah yang akan dan senantiasa menjaga Alquran. 2) Mengkafirkan Sahabat Abu Bakar dan Umar r.a. Ulama Syiah Ni’matullah al-Jazairi berkata bahwa, “ Abu Bakar dan Umar tidak pernah beriman kepada Rasulullah SAW sampai akhir hayatnya. Hal ini sangat bertentangan dengan Q.S. At Taubah ayat 10 yang menyatakan bahwa orang terdahulu yang pertama masuk Islam (diantaranya Abu Bakar dan Umar) Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridho kepada Allah. Maka apatah mungkin orang yang diridhoi Allah itu tidak beriman/kafir? 3) Mengkafirkan Umat Islam. Ulama Syiah Mirza Muhammad Taqi mengatakan bahwa selain orang Syiah akan masuk neraka selama-lamanya.[2] Yusuf Al Bahrani, ulama syiah yang lain mengatakan bahwa “Seorang mukhalif (yang berbeda paham dengan syiah) itu kafir, tiada baginya keislaman sedikitpun.”Hal ini bertentangan dengan HR Muslim No 111 dan HR Bukhari No 5883 “Jika seseorang mengkafirkan saudaranya, maka sesungguhnya kalimat itu kembali kepada salah satu dari keduanya.” 4) Pelantikan Ali di Ghadir Khum. Dan ini dibantah oleh ulama sahabat, tabiin dan generasi setelahnya. Dan tidak pernah diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits shahih seperti Bukhari dan Muslim. 5) Imam syiah maksum. Padahal tidak ada manusia yang maksum selain para nabi dan Rasul. 6) Nikah Mut’ah. Seluruh ulama empat mazhab telah bersepakat bahwa nikah mut’ah telah diharamkan. Dan itu adalah pemahaman Ahlussunnah waljamaah.
                Syiah di Indonesia telah melebarkan sayap selebar-lebarnya. Salah satu organisasi syiah terbesar, IJABI, mengklaim bahwa mereka memiliki 3 juta anggota yang tersebar di seantero Indonesia dan telah memiliki cabang sampai ke kecamatan. Dikenal ada 5 poros penyebaran syiah di Indonesia, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Pekalongan dan Semarang, Bangil dan Pasuruan serta Bandung.[3] Dalam dunia pendidikan, syiah telah banyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi. Tercatat, ratusan Yayasan telah mereka dirikan. DI antara Perguruan Tinggi yang mereka miliki adalah STAI Madina Ilmu Bogor dan ICAS (Islamic College for Advance Studies) di Jakarta. Dibeberapa kampus/PT Islam mereka membuka Pojok Iran (Iranian Corner) yang menyediakan banyak referensi Syiah dan membuka kursus bahasa Arab dan Persia. Selain itu, mereka juga banyak mengirimkan pelajar Indonesia untuk belajar di Universitas-Universitas di Iran, terutama di Qom.
                Dalam dunia pergerakan mahasiswa, saya belum mengetahui ada Pergerakan Mahasiswa Syiah yang established dalam dunia pergerakan. Paling ada juga Permassi, Persaudaraan Mahasiswa Syiah Sunni yang didirikan pada 25 April 2012. Tidak banyak informasi yang saya ketahui tentang organisasi ini. Adapun, dalam dunia pergerakan mahasiswa, syiah lebih banyak melakukan infiltrasi . Mereka masuk dan menyebarkan paham syiah mereka. Ada satu organisasi mahasiswa Islam besar yang sering dimasuki oleh oleh mereka. Adapun di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang mana saya menjadi bagian di dalamnya, insya Allah terbebas dari infiltrasi kaum syiah ini.
                Ada salah satu pengalaman yang ditulis oleh pentolan KAMMI dari Yogyakarta tentang pengalamannya berinteraksi dengan mahsiswa syiah di sana. [4] Beliau menyebutkan ketika ada seorang aktivis muslimah yang berdebat dengan lelaki syiah dengan perjanjian, kalau aktivis muslimah ini kalah debat maka dia harus bersedia dinikahi oleh lelaki syiah tersebut. Alhasil, aktivis muslimah ini kalah berdebat dan dia dinikahi oleh lelaki syiah, dan tentunya dia berganti keyakinan menjadi seorang syiah. Hal ini, dikarenakan, di kalangan syiah, retorika, filsafat, dan mantiq menjadi begitu penting dan menjadi kafaah dasar. Maka tidak heran, banyak bermunculan tokoh-tokoh filsafat dan pemikiran dari kalangan syiah semacam Mulla Shadra, Syariati, dan Khomeini. Dan kita kenal, pentolan Syiah di Indonesia adalah seorang pakar komunikasi.
                Untuk menjaga dan membentengi mahasiswa muslim dari paham syiah ini, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
1.       Memahami dengan benar aqidah Ahlussunnah
2.       Memahami ajaran dan strategi penyebaran syiah, dengan mengikuti kajian dan seminar-seminar serta membaca buku Panduan MUI tentang Syiah
3.       Memilih dan memilah organisasi mahasiswa yang aman dan terbebas dari pengaruh paham syiah
4.       Memiliki guru/syaikh yang bisa dijadikan referensi ketika timbul permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan syiah


[1] Lihat Shahih Bukhari juz 5/7, Sunan Abu Dawud, juz 4/228, Sunan Ibnu Majah, juz 1/39.
[2] Lihat Shahifah Al Abrar vol. 1 hal 342
[3] Lihat Tim penulis MUI, Mengenal dan Mewaspadai penyimpangan Syiah, Al Qalam Jakarta, 2013, hlm. 66
[4] www.yusufmaulana.com/2012/09/syiah-dan-yogya-sebuah-memori--pribadi.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar