Syiah
adalah salah satu golongan yang sangat tua dalam khazanah dan literatur dunia
Islam. Keberadaannya bersinggungan secara intens dengan paham jumhur
Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah syiah banyak ditulis dan dipaparkan oleh para
ahli dengan berbagai macam versi. Ada versi Syiah, ada pula versi Ahlussunnah.
Keberadaan syiah sangat disandarkan pada sosok sahabat mulia, Sayyidina Ali ibn
Abi Tahalib Karramallahu wajhah Radiyallahu Anhum. Kata syiah sendiri berasal
dari frasa Syiah Ali, atau golongan Ali. Yang pada beberapa interpretasi
terbagi dua –versi ahlussunnah- yaitu Syiah Ali generasi awal dan syiah Ali
generasi berikutnya.Syiah generasi awal sebagaimana yang dijelaskan dalam buku
yang ditulis oleh MUI baru-baru ini, adalah golongan yang setia pada khalifah
yang sah saat itu melawan pihak Muawiyah dan hanya bersifat kultural. Sedangkan
syiah generasi berikutnya bercorak aqidah dan memiliki doktrin-doktrin
tersendiri yang banyak di antaranya bertentangan dengan doktrin muktabar
Ahlusssunnah. Syiah Ali generasi pertama tidak ada yang menolak dan membenci 3
khalifah sebelum Ali dan berkeyakinan bahwa Ali lebih utama dan lebih berhak
atas kekhalifahan setelah Rasulullah daripada Abu Bakar dan Umar. Bahkan Ali
sendiri ketika berkhotbah di Kufah menegaskan Hadits Nabi bahwa “Sebaik-baik
Umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar dan Umar ra”[1] Tapi
yang dilematis lagi kemudian, bahwa kaum syiah sekarang mereka tidak mengakui
hadits yang tidak diriwayatkan oleh selain Ahlul Bait. Ini menjadi kerumitan
tersendiri.
Dalam
Buku yang diterbitkan oleh MUI, di sana dijelaskan tentang 5 pokok kesesatan
ajaran Syiah, yaitu 1) Penyimpangan paham tentang orisinalitas Alquran. Ulama
Syiah Al Mufid dan Baqir Al Majlisi mengatakan bahwa Alquran yang ada saat ini
tidak orisinal. Alquran sekarang telah mengalami distorsi, penambahan dan
pengurangan. Ini jelas sangat bertentangan dengan Alquran sendiri yang mana
Allah menegaskan bahwa Allahlah yang akan dan senantiasa menjaga Alquran. 2)
Mengkafirkan Sahabat Abu Bakar dan Umar r.a. Ulama Syiah Ni’matullah al-Jazairi
berkata bahwa, “ Abu Bakar dan Umar tidak pernah beriman kepada Rasulullah SAW
sampai akhir hayatnya. Hal ini sangat bertentangan dengan Q.S. At Taubah ayat
10 yang menyatakan bahwa orang terdahulu yang pertama masuk Islam (diantaranya
Abu Bakar dan Umar) Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridho kepada
Allah. Maka apatah mungkin orang yang diridhoi Allah itu tidak beriman/kafir?
3) Mengkafirkan Umat Islam. Ulama Syiah Mirza Muhammad Taqi mengatakan bahwa
selain orang Syiah akan masuk neraka selama-lamanya.[2]
Yusuf Al Bahrani, ulama syiah yang lain mengatakan bahwa “Seorang mukhalif
(yang berbeda paham dengan syiah) itu kafir, tiada baginya keislaman
sedikitpun.”Hal ini bertentangan dengan HR Muslim No 111 dan HR Bukhari No 5883
“Jika seseorang mengkafirkan saudaranya, maka sesungguhnya kalimat itu kembali
kepada salah satu dari keduanya.” 4) Pelantikan Ali di Ghadir Khum. Dan ini
dibantah oleh ulama sahabat, tabiin dan generasi setelahnya. Dan tidak pernah
diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits shahih seperti Bukhari dan Muslim. 5)
Imam syiah maksum. Padahal tidak ada manusia yang maksum selain para nabi dan
Rasul. 6) Nikah Mut’ah. Seluruh ulama empat mazhab telah bersepakat bahwa nikah
mut’ah telah diharamkan. Dan itu adalah pemahaman Ahlussunnah waljamaah.
Syiah
di Indonesia telah melebarkan sayap selebar-lebarnya. Salah satu organisasi
syiah terbesar, IJABI, mengklaim bahwa mereka memiliki 3 juta anggota yang
tersebar di seantero Indonesia dan telah memiliki cabang sampai ke kecamatan.
Dikenal ada 5 poros penyebaran syiah di Indonesia, yaitu Jakarta, Yogyakarta,
Pekalongan dan Semarang, Bangil dan Pasuruan serta Bandung.[3]
Dalam dunia pendidikan, syiah telah banyak mendirikan lembaga-lembaga
pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi. Tercatat, ratusan Yayasan telah
mereka dirikan. DI antara Perguruan Tinggi yang mereka miliki adalah STAI
Madina Ilmu Bogor dan ICAS (Islamic College for Advance Studies) di Jakarta.
Dibeberapa kampus/PT Islam mereka membuka Pojok Iran (Iranian Corner) yang
menyediakan banyak referensi Syiah dan membuka kursus bahasa Arab dan Persia. Selain
itu, mereka juga banyak mengirimkan pelajar Indonesia untuk belajar di
Universitas-Universitas di Iran, terutama di Qom.
Dalam
dunia pergerakan mahasiswa, saya belum mengetahui ada Pergerakan Mahasiswa
Syiah yang established dalam dunia pergerakan. Paling ada juga Permassi,
Persaudaraan Mahasiswa Syiah Sunni yang didirikan pada 25 April 2012. Tidak
banyak informasi yang saya ketahui tentang organisasi ini. Adapun, dalam dunia
pergerakan mahasiswa, syiah lebih banyak melakukan infiltrasi . Mereka masuk
dan menyebarkan paham syiah mereka. Ada satu organisasi mahasiswa Islam besar
yang sering dimasuki oleh oleh mereka. Adapun di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Muslim Indonesia) yang mana saya menjadi bagian di dalamnya, insya Allah
terbebas dari infiltrasi kaum syiah ini.
Ada
salah satu pengalaman yang ditulis oleh pentolan KAMMI dari Yogyakarta tentang
pengalamannya berinteraksi dengan mahsiswa syiah di sana. [4]
Beliau menyebutkan ketika ada seorang aktivis muslimah yang berdebat dengan
lelaki syiah dengan perjanjian, kalau aktivis muslimah ini kalah debat maka dia
harus bersedia dinikahi oleh lelaki syiah tersebut. Alhasil, aktivis muslimah
ini kalah berdebat dan dia dinikahi oleh lelaki syiah, dan tentunya dia
berganti keyakinan menjadi seorang syiah. Hal ini, dikarenakan, di kalangan
syiah, retorika, filsafat, dan mantiq menjadi begitu penting dan menjadi kafaah
dasar. Maka tidak heran, banyak bermunculan tokoh-tokoh filsafat dan pemikiran
dari kalangan syiah semacam Mulla Shadra, Syariati, dan Khomeini. Dan kita
kenal, pentolan Syiah di Indonesia adalah seorang pakar komunikasi.
Untuk
menjaga dan membentengi mahasiswa muslim dari paham syiah ini, maka ada
beberapa hal yang harus kita lakukan:
1. Memahami dengan benar aqidah Ahlussunnah
2. Memahami ajaran dan strategi penyebaran syiah, dengan mengikuti
kajian dan seminar-seminar serta membaca buku Panduan MUI tentang Syiah
3. Memilih dan memilah organisasi mahasiswa yang aman dan terbebas
dari pengaruh paham syiah
4. Memiliki guru/syaikh yang bisa dijadikan referensi ketika timbul
permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan syiah
[1] Lihat Shahih
Bukhari juz 5/7, Sunan Abu Dawud, juz 4/228, Sunan Ibnu Majah, juz 1/39.
[2] Lihat Shahifah
Al Abrar vol. 1 hal 342
[3] Lihat
Tim penulis MUI, Mengenal dan Mewaspadai penyimpangan Syiah, Al Qalam
Jakarta, 2013, hlm. 66
[4]
www.yusufmaulana.com/2012/09/syiah-dan-yogya-sebuah-memori--pribadi.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar