Lelaki Gamang
Di ruang kerjanya, laki-laki itu hanya terdiam, merenung dan pikirannya menerawang membuka halaman-halaman memorinya dalam beberapa hari terakhir. Ia kini berada dalam sebuah kondisi yang dilematis, ketika dia menerima sebuah amplop yang di dalamnya berisi traveler chek yang tertera dua angka dengan tujuh digit angka nol di belakangnya. Memang uang itu tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah mega proyek yang meghabiskan pagu anggaran hampir satu trilyun, tapi dalam kondisinya yang sekarang, angka itu cukup untuk membawa istrinya berobat ke sebuah Rumah Sakit yang representatif untuk mengobati kanker rahim yang diderita semenjak istrinya mengalami bedah cesar sekitar satu tahun yang lalu.
Lelaki itu bernama Roni Darmawan, seorang pimpinan fraksi sebuah partai politik yang tidak terlalu idealis –karena beberapa anggota legislatif dari partai tersebut pernah tersandung kasus korupsi di beberapa daerah- di sebuah kabupaten di ujung utara Indonesia. Akhir-akhir ini, kabupaten tersebut menjadi incaran beberapa investor yang ingin menanamkan modalnya dalam penambangan minyak, gas, batu bara dan yang lainnya karena memang kabupaten itu sangat kaya dengan kandungan mineral dan potensi alamnya.
“Pak....”, bisik istrinya lirih pada suatu malam.
“Dokter megatakan, kalau tidak secepatnya dilakukan operasi, maka akan mengakibatkan infeksi yang sangat parah dan Bapak sendiri tahu akibatnya......”, suara istrinya terbata-bata.
“Iya Bu, Bapak sangat mengerti, dan Bapak juga ingin secepatnya Ibu dioperasi, tapi kita belum mempunyai biaya yang cukup, dan pengobatan Ibu itu harus dilakukan di Rumah Sakit luar negeri, Singapura paling tidak. Kalau masih di dalam negeri, Bapak tidak yakin akan berhasil.”
“Bapak kan mendapat gaji bulanan dan tunjangan, dan kalau dikumpulkan dalam beberapa saat, akan bisa menjadi biaya awal pengobatan Ibu”, kata istrinya diplomatis.
Roni Darmawan memang baru beberapa bulan menjabat sebagai anggota legislatif. Dia terhitung seseorang yang cepat dan beruntung dalam karir politiknya. Berkarir dari tingkat ranting sampai menjadi ketua anak cabang, pimpinan partai tingkat kecamatan, ditambah pergaulannya yang luwes sudah cukup mengantarkannya menuju kursi legislatif sebuah DPRD Kabupaten. Gajinya sebagai anggota dewan memang sudah lebih dari cukup untuk membiayai berbagai macam kebutuhan keluarga dari yang primer sampai tersier, tapi karena di awal masa tugasnya, banyak biaya pengeluaran yang harus ia tutupi. Potongan untuk fraksi, partai, konstituen, sampai biaya untuk melunasi berbagai macam utangnya selama kampanye yang nyaris mencapai ratusan juta rupiah yang sampai saat ini belum terbayar lunas.
Roni menarik nafas panjang, panjang sekali, dan kembali mengeluarkannya jauh lebih panjang dari pada saat ia menariknya. Seolah-olah dia ingin membuang semua beban yang selama ini menggelayut di pundaknya.
“ Iya, Bu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, Bapak segera mendapat rezeki atau setidaknya mendapat pinjaman lagi dari teman-teman Bapak”, kilahnya.
“ Kalau gaji dan tunjangan Bapak?”
“ Ibu tahu sendirilah, memang secara nominal cukup besar, tapi besar pula yang harus Bapak keluarkan. Potongan fraksi lah, potongan partai, sumbangan konstituen, bahkan utang selama kampanye kemarin belum lunas semua, masih menyisakan berbagai tunggakan”.
“ Oooh.....”, keluh istrinya seolah kehilangan harapan.
Batin Roni sangat tersiksa, di satu sisi dia benar-benar sangat ingin mengobati istrinya sampai sembuh, hingga harapannya untuk mendapatkan momongan selama beberapa tahun terakhir ini bisa terlaksana. Namun di sisi lain, berapatah uang yang bisa ia kumpulkan dalam waktu dekat ini, padahal istrinya harus segera mendapatkan pengobatan, bahkan operasi, untuk bisa menyembuhkan kanker rahim yang ia derita selama satu tahun terakhir ini. Bukan tanpa usaha, Roni telah mendatangi hampir semua Rumah Sakit di kotanya sampai ke ibukota provinsi, juga pengobatan-pengobatan alternatif telah ia coba, tapi penyakit istrinya tidak sembuh juga. Dan salah satu rekmendasi dari serang dokter di salah satu Rumah Sakit di kotanya, istrinya itu harus mendapatkan perawatan khusus Rumah Sakit di luar negeri, setidaknya Singapura atau Australia.
Di salah satu ruang di kantor DPRD Kabupaten, ia sedang melakukan pembicaraan serius dengan salah seorang anggota dewan yang lain.
“ Sudahlah, Pak. Bapak tanda tangani saja surat izin itu. Toh nanti juga Bapak akan mendapatkan balasan yang setimpal dari pengusaha itu. Bapak sudah dihubungi pengusaha itu, kan?”, kata Erwin pada suatu hari.
Erwin adalah salah seorang anggota dewan yang ditugasi membujuk Roni untuk bisa secepatnya meng-acc izin sebuah proyek pembuatan beberapa sumur minyak baru tanpa tender yang diajukan oleh sebuah perusahaan minyak nasional. Sesuai SOP, PERDA dan Undang-Undang terbaru, memang sebuah proyek itu harus dilaksanakan melalui tender terbuka terhadap berbagai perusahaan yang mengajukan diri, apalagi dengan pagu anggaran yang hampir mencapai satu trilyun dan sebagiannya didanai dari APBD Provinsi dan APBN. Memang proyek ini sangat prestisius dan rentan oleh adanya berbagai macam penyelewengan. Dan inilah yang diragukan oleh Erwin, dengan menandatangini izin tersebut, maka dia telah melakukan sebuah pelanggaran, korupsi, kolusi entah apa namanya yang mungkin dapat berakibat fatal di kemudian hari.
“ Ya, saya sudah bertemu dengan dia. Bahkan dia juga telah memberikan traveler chek”.
“ Lalu, apalagi yang Bapak pertimbangkan? Tinggal Bapak yang belum menandatangani, yang lain sudah. Tinggal menunggu tanda tangan dari Bapak, proyek prestisius itu akan secepatnya terealisir. Bukan begitu?”
“ Ya, memang seperti itu. Tapi tetap saja proyek ini harus ditenderkan. Saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.”, sergah Roni.
“ Tenang saja, Pak. Semuanya rapih dan dijamin tidak akan terjadi hal itu, karena semuanya terlibat dan dapat jatah. Tidak ada yang akan mengungkit-ungkit lagi masalah ini. Semuanya beres”.
Nurani Roni terusik. Ia merasa telah mengkhianati kepercayaan dari rakyat yang telah diembankan kepadanya. Tapi di sisi lain, ia merasa begitu tidak berdaya, karena ia merasa sendiri. Ia merasa telah masuk pusaran arus yang memaksanya harus masuk dan berpusing di dalamnya. Lubang itu begitu pekat, tak bisa ia mengenali lagi sekitarnya. Ia kemudian meragukan, apakah tepat gelar wakil rakya yang disandangnya selama ini? Justeru dia malah menjadi wakil dari para konglmerat, para pengusaha yang mencari keuntungan di balik penderitaan rakyat. Roni terpojok, hatinya menjerit.
“ Oke. Saya minta waktu dua hari untuk memutuskannya, meskipun terasa sangat berat”, Roni menawarkan opsi. Opsi ini sebenarnya untuk mencoba mengulur-ulur tenggat waktu dan berusaha memikirkan strategi yang akan ia lakukan ke depan, untuk setidaknya bisa meninjau ulang izin eksplorasi terhadap perusahaan itu.
“ Baiklah. Saya harap dalam tempo dua hari, Bapak sudah bisa menandatanganinya. Dan urusan kita bisa lancar. Untuk mempermudah, berkas ini Bapak bawa saja, biar bisa langsung Bapak tandatangani. Kalau Bapak menyetujuinya, saya pribadi akan memberikan apresiasi untuk Bapak. Bapak tunggu saja nanti. Bapak pasti senang.”
“ Oke....” jawab Roni dengan berat.
Pembicaraan itupun selesai, keduanya meninggalkan ruangan itu. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam batin Roni, antara kondisi istrinya yang sakit, proyek prestisius, traveler chek, sampai rakyat dan konstituen yang mengamanatinya untuk menjadi wakil mereka.
Kini, dua hari setelah pembicaraan dengan Erwin itu, Roni masih memandangi sebuah amplop yang berisi traveller chek dan berkas surat izin yang harus dia tandatangani. Suasana siang itu begitu mencekam. Perasaan Roni masih saja berkecamuk. Dia begitu bimbang, begitu gamang. Ada banyak konsekuensi yang akan ia ambil ketika menandatangani surat izin itu, juga ketika ia menolak untuk menandatangani. Jika ia membubuhkan tanda tangan itu, maka ia menjadi pengkhianat rakyat, mengkhianati amanat yang diembankan kepadanya, dan bisa jadi kasus ini akan terbongkar di kemudian hari. Di samping ada sedikit perasaan berdosa yang hampir-hampir tidak menjadi bahan pertimbangannya selama ini. Tetapi juga ia bisa mengobati istrinya tercinta ke luar negeri secepatnya dan bisa kembali melihat senyum istrinya yang ia harapkan dapat memberikan keturunan untuknya. Tetapi konsekuensi yang akan dia hadapi ketika ia menolak menandatangani adalah ia akan dikucilkan oleh anggota dewan yang lain dan tidak bisa secepatnya mengobati istrinya yang bisa mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, bahkan bisa membahayakan nyawa istrinya.
Keringat dingin bercucuran, ditatapnya dengan sayu amplop dan berkas yang ada di depannya. Ia telah menjadi orang yang sangat bimbang, ragu dan oportunis dalam kondisi seperti ini. Tiba-tiba entah kekuatan seperti apa yang mendorongnya, yang meluluhlantahkan semua pertimbangan idealismenya selama ini. Yang terbayang hanyalah wajah istrinya yang lugu yang telah dinikahinya selama lima tahun, yang telah berusaha memberikan keturunan untuknya, merasakan sakitnya bedah cesar ketika janin yang telah dikandungnya selama tujuh bulan meninggal di dalam kandungan, yang telah mewarnai hari-harinya selama ini, mendampinginya dalam berbagai situasi dan kondisi. Tangannya pelan-pelan mengambil ballpoint yang ada di saku atasnya, perlahan membuka berkas yang ada di depannya, ia mencari bagian mana yang tertera namanya, dan dia menemukan di sana tertulis Roni Darmawan, Ketua Fraksi X, lalu ia bubuhkan tanda tangannya dengan gemetar, tapi tidak terlalu lama dia sudah bisa menguasai keadaan. Kemudian dia membuka amplop dan melihat deretan angka yang tertera dalam chek tersebut, Rp 150.000.000. Roni terlihat tersenyum melihat deretan angka tersebut. Entah tersenyum untuk apa?
Di ruang kerjanya, laki-laki itu hanya terdiam, merenung dan pikirannya menerawang membuka halaman-halaman memorinya dalam beberapa hari terakhir. Ia kini berada dalam sebuah kondisi yang dilematis, ketika dia menerima sebuah amplop yang di dalamnya berisi traveler chek yang tertera dua angka dengan tujuh digit angka nol di belakangnya. Memang uang itu tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah mega proyek yang meghabiskan pagu anggaran hampir satu trilyun, tapi dalam kondisinya yang sekarang, angka itu cukup untuk membawa istrinya berobat ke sebuah Rumah Sakit yang representatif untuk mengobati kanker rahim yang diderita semenjak istrinya mengalami bedah cesar sekitar satu tahun yang lalu.
Lelaki itu bernama Roni Darmawan, seorang pimpinan fraksi sebuah partai politik yang tidak terlalu idealis –karena beberapa anggota legislatif dari partai tersebut pernah tersandung kasus korupsi di beberapa daerah- di sebuah kabupaten di ujung utara Indonesia. Akhir-akhir ini, kabupaten tersebut menjadi incaran beberapa investor yang ingin menanamkan modalnya dalam penambangan minyak, gas, batu bara dan yang lainnya karena memang kabupaten itu sangat kaya dengan kandungan mineral dan potensi alamnya.
“Pak....”, bisik istrinya lirih pada suatu malam.
“Dokter megatakan, kalau tidak secepatnya dilakukan operasi, maka akan mengakibatkan infeksi yang sangat parah dan Bapak sendiri tahu akibatnya......”, suara istrinya terbata-bata.
“Iya Bu, Bapak sangat mengerti, dan Bapak juga ingin secepatnya Ibu dioperasi, tapi kita belum mempunyai biaya yang cukup, dan pengobatan Ibu itu harus dilakukan di Rumah Sakit luar negeri, Singapura paling tidak. Kalau masih di dalam negeri, Bapak tidak yakin akan berhasil.”
“Bapak kan mendapat gaji bulanan dan tunjangan, dan kalau dikumpulkan dalam beberapa saat, akan bisa menjadi biaya awal pengobatan Ibu”, kata istrinya diplomatis.
Roni Darmawan memang baru beberapa bulan menjabat sebagai anggota legislatif. Dia terhitung seseorang yang cepat dan beruntung dalam karir politiknya. Berkarir dari tingkat ranting sampai menjadi ketua anak cabang, pimpinan partai tingkat kecamatan, ditambah pergaulannya yang luwes sudah cukup mengantarkannya menuju kursi legislatif sebuah DPRD Kabupaten. Gajinya sebagai anggota dewan memang sudah lebih dari cukup untuk membiayai berbagai macam kebutuhan keluarga dari yang primer sampai tersier, tapi karena di awal masa tugasnya, banyak biaya pengeluaran yang harus ia tutupi. Potongan untuk fraksi, partai, konstituen, sampai biaya untuk melunasi berbagai macam utangnya selama kampanye yang nyaris mencapai ratusan juta rupiah yang sampai saat ini belum terbayar lunas.
Roni menarik nafas panjang, panjang sekali, dan kembali mengeluarkannya jauh lebih panjang dari pada saat ia menariknya. Seolah-olah dia ingin membuang semua beban yang selama ini menggelayut di pundaknya.
“ Iya, Bu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, Bapak segera mendapat rezeki atau setidaknya mendapat pinjaman lagi dari teman-teman Bapak”, kilahnya.
“ Kalau gaji dan tunjangan Bapak?”
“ Ibu tahu sendirilah, memang secara nominal cukup besar, tapi besar pula yang harus Bapak keluarkan. Potongan fraksi lah, potongan partai, sumbangan konstituen, bahkan utang selama kampanye kemarin belum lunas semua, masih menyisakan berbagai tunggakan”.
“ Oooh.....”, keluh istrinya seolah kehilangan harapan.
Batin Roni sangat tersiksa, di satu sisi dia benar-benar sangat ingin mengobati istrinya sampai sembuh, hingga harapannya untuk mendapatkan momongan selama beberapa tahun terakhir ini bisa terlaksana. Namun di sisi lain, berapatah uang yang bisa ia kumpulkan dalam waktu dekat ini, padahal istrinya harus segera mendapatkan pengobatan, bahkan operasi, untuk bisa menyembuhkan kanker rahim yang ia derita selama satu tahun terakhir ini. Bukan tanpa usaha, Roni telah mendatangi hampir semua Rumah Sakit di kotanya sampai ke ibukota provinsi, juga pengobatan-pengobatan alternatif telah ia coba, tapi penyakit istrinya tidak sembuh juga. Dan salah satu rekmendasi dari serang dokter di salah satu Rumah Sakit di kotanya, istrinya itu harus mendapatkan perawatan khusus Rumah Sakit di luar negeri, setidaknya Singapura atau Australia.
Di salah satu ruang di kantor DPRD Kabupaten, ia sedang melakukan pembicaraan serius dengan salah seorang anggota dewan yang lain.
“ Sudahlah, Pak. Bapak tanda tangani saja surat izin itu. Toh nanti juga Bapak akan mendapatkan balasan yang setimpal dari pengusaha itu. Bapak sudah dihubungi pengusaha itu, kan?”, kata Erwin pada suatu hari.
Erwin adalah salah seorang anggota dewan yang ditugasi membujuk Roni untuk bisa secepatnya meng-acc izin sebuah proyek pembuatan beberapa sumur minyak baru tanpa tender yang diajukan oleh sebuah perusahaan minyak nasional. Sesuai SOP, PERDA dan Undang-Undang terbaru, memang sebuah proyek itu harus dilaksanakan melalui tender terbuka terhadap berbagai perusahaan yang mengajukan diri, apalagi dengan pagu anggaran yang hampir mencapai satu trilyun dan sebagiannya didanai dari APBD Provinsi dan APBN. Memang proyek ini sangat prestisius dan rentan oleh adanya berbagai macam penyelewengan. Dan inilah yang diragukan oleh Erwin, dengan menandatangini izin tersebut, maka dia telah melakukan sebuah pelanggaran, korupsi, kolusi entah apa namanya yang mungkin dapat berakibat fatal di kemudian hari.
“ Ya, saya sudah bertemu dengan dia. Bahkan dia juga telah memberikan traveler chek”.
“ Lalu, apalagi yang Bapak pertimbangkan? Tinggal Bapak yang belum menandatangani, yang lain sudah. Tinggal menunggu tanda tangan dari Bapak, proyek prestisius itu akan secepatnya terealisir. Bukan begitu?”
“ Ya, memang seperti itu. Tapi tetap saja proyek ini harus ditenderkan. Saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.”, sergah Roni.
“ Tenang saja, Pak. Semuanya rapih dan dijamin tidak akan terjadi hal itu, karena semuanya terlibat dan dapat jatah. Tidak ada yang akan mengungkit-ungkit lagi masalah ini. Semuanya beres”.
Nurani Roni terusik. Ia merasa telah mengkhianati kepercayaan dari rakyat yang telah diembankan kepadanya. Tapi di sisi lain, ia merasa begitu tidak berdaya, karena ia merasa sendiri. Ia merasa telah masuk pusaran arus yang memaksanya harus masuk dan berpusing di dalamnya. Lubang itu begitu pekat, tak bisa ia mengenali lagi sekitarnya. Ia kemudian meragukan, apakah tepat gelar wakil rakya yang disandangnya selama ini? Justeru dia malah menjadi wakil dari para konglmerat, para pengusaha yang mencari keuntungan di balik penderitaan rakyat. Roni terpojok, hatinya menjerit.
“ Oke. Saya minta waktu dua hari untuk memutuskannya, meskipun terasa sangat berat”, Roni menawarkan opsi. Opsi ini sebenarnya untuk mencoba mengulur-ulur tenggat waktu dan berusaha memikirkan strategi yang akan ia lakukan ke depan, untuk setidaknya bisa meninjau ulang izin eksplorasi terhadap perusahaan itu.
“ Baiklah. Saya harap dalam tempo dua hari, Bapak sudah bisa menandatanganinya. Dan urusan kita bisa lancar. Untuk mempermudah, berkas ini Bapak bawa saja, biar bisa langsung Bapak tandatangani. Kalau Bapak menyetujuinya, saya pribadi akan memberikan apresiasi untuk Bapak. Bapak tunggu saja nanti. Bapak pasti senang.”
“ Oke....” jawab Roni dengan berat.
Pembicaraan itupun selesai, keduanya meninggalkan ruangan itu. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam batin Roni, antara kondisi istrinya yang sakit, proyek prestisius, traveler chek, sampai rakyat dan konstituen yang mengamanatinya untuk menjadi wakil mereka.
Kini, dua hari setelah pembicaraan dengan Erwin itu, Roni masih memandangi sebuah amplop yang berisi traveller chek dan berkas surat izin yang harus dia tandatangani. Suasana siang itu begitu mencekam. Perasaan Roni masih saja berkecamuk. Dia begitu bimbang, begitu gamang. Ada banyak konsekuensi yang akan ia ambil ketika menandatangani surat izin itu, juga ketika ia menolak untuk menandatangani. Jika ia membubuhkan tanda tangan itu, maka ia menjadi pengkhianat rakyat, mengkhianati amanat yang diembankan kepadanya, dan bisa jadi kasus ini akan terbongkar di kemudian hari. Di samping ada sedikit perasaan berdosa yang hampir-hampir tidak menjadi bahan pertimbangannya selama ini. Tetapi juga ia bisa mengobati istrinya tercinta ke luar negeri secepatnya dan bisa kembali melihat senyum istrinya yang ia harapkan dapat memberikan keturunan untuknya. Tetapi konsekuensi yang akan dia hadapi ketika ia menolak menandatangani adalah ia akan dikucilkan oleh anggota dewan yang lain dan tidak bisa secepatnya mengobati istrinya yang bisa mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, bahkan bisa membahayakan nyawa istrinya.
Keringat dingin bercucuran, ditatapnya dengan sayu amplop dan berkas yang ada di depannya. Ia telah menjadi orang yang sangat bimbang, ragu dan oportunis dalam kondisi seperti ini. Tiba-tiba entah kekuatan seperti apa yang mendorongnya, yang meluluhlantahkan semua pertimbangan idealismenya selama ini. Yang terbayang hanyalah wajah istrinya yang lugu yang telah dinikahinya selama lima tahun, yang telah berusaha memberikan keturunan untuknya, merasakan sakitnya bedah cesar ketika janin yang telah dikandungnya selama tujuh bulan meninggal di dalam kandungan, yang telah mewarnai hari-harinya selama ini, mendampinginya dalam berbagai situasi dan kondisi. Tangannya pelan-pelan mengambil ballpoint yang ada di saku atasnya, perlahan membuka berkas yang ada di depannya, ia mencari bagian mana yang tertera namanya, dan dia menemukan di sana tertulis Roni Darmawan, Ketua Fraksi X, lalu ia bubuhkan tanda tangannya dengan gemetar, tapi tidak terlalu lama dia sudah bisa menguasai keadaan. Kemudian dia membuka amplop dan melihat deretan angka yang tertera dalam chek tersebut, Rp 150.000.000. Roni terlihat tersenyum melihat deretan angka tersebut. Entah tersenyum untuk apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar