Sebuah hadits
dari Mu’adz bin Jabal yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabrani memberikan
penjelasan pada bahwa ada empat hal yang akan ditanyakan pada kita di yaumil
akhir, yaitu tentang umur kemana saja dihabiskan, masa muda untuk apa digunakan,
tentang harta dari mana dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmu apa yang ia
perbuat dengannya. Pertanyaan-pertanyaan
itu menjadi garansi bagi seorang hamba, apakah dia akan selamat di akhirat
nanti atau tidak, apakah ia akan melangkahkan kakinya ke surga atau ke neraka.
Makna umur
bagi seorang hamba laksana modal bagi sebuah usaha. Tanpa modal, sebuah usaha
tidak akan berjalan. Begitu juga manusia, tanpa umur apalah ia. Ia tidak
memiliki dimensi yang dapat memberikannya elan vital dalam menjalankan amanahnya
sebagai hamba dan khalifatullah. Allah memberikan umur pada manusia untuk
dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia berjalan beriringan bersama nyawa yang Allah
tiupkan pada manusia. Ia bagian tak terpisahkan dari manusia itu sendiri.
Meskipun waktu, sulit kita definisikan bentuk dan pengertiannya seperti apa.
Dalam
perjalanan masa dan manusia, kita banyak melihat contoh, bagaimana para manusia
terdahulu menghabiskan umur mereka. Ada manusia yang menghabiskan umurnya dalam
ketaatan, ada juga yang bergelimang kelalaian, juga ada yang bergelimang
kemaksiatan. Kita tinggal memilih, model penghabisan umur mana yang akan kita
tiru, dan tentunya kita harus paham dengan konsekuensinya. Fir’aun yang
menghabiskan umurnya dengan pembangkangan, akan mendapatkan pembalasan yang
mengerikan. Di akhirat disiksa, di dunia dinista dengan ditenggelamkan. Para
nabi mengisi umur mereka dengan dakwah dan ketaatan, mendapatkan jaminan
terbaik dari Allah di akhirat kelak.
Manusia,
melintas mengisi ruang waktu dan sejarah. Ada yang menjadi manusia yang unggul
dan tercatat dalam sejarah, ada juga pembangkang yang tercatat dalam sejarah
dengan tinta darah, juga ada manusia yang alpa akan sejarah. Hidupnya hanya
sambil lalu, ala kadarnya, wujuduhu ka ‘adamihi. Adanya seperti tidak adanya. Dua
model terakhir ini yang harus dihindari. Sayyid quthb mengatakan, bahwa orang
yang hidup untuk dirinya sendiri, maka ia akan menjadi orang kecil dan usianya
begitu pendek. Tetapi orang yang hidup untuk orang lain, maka ia akan menjadi
orang besar dan memiliki usia yang panjang, jauh melebihi usia dia sebenarnya.
Inilah yang
harus kita pahami, bahwa parameter kebermanfaatan umur kita adalah sejauh mana
kita bisa memberikan sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain. Khairun
naas anfa’uhum linnas. Sebaik2 manusia adalah yang paling banyak
memberikan manfaat pada manusia yang lain. Semakin banyak orang yang merasakan
manfaat dari kehadiran kita, maka bisa disimpulkan bahwa semakin baiklah
kulaitas hidup kita. Begitupun sebaliknya. Maka, jika ada orang yang sibuk
hanya untuk dirinya sendiri, maka perlu dipertanyakan, untuk apa dia hidup?
Hidup seperti itu, laksana kita mengisi segelas air, kemudian kita minum dan
habiskan, kita isi lagi, kita minum dan habiskan lagi. Tidak akan ada ujungnya.
Hanya kepuasan individu yang kita tak tahu, entah kapan kita akan merasakan
puas dengan model dan pola hidup seperti itu.
Rasulullah
pernah mengatakan bahwa kalau manusia memiliki satu buah gunung emas, maka dia
akan meminta gunung emas yang kedua, ia tidak akan pernah merasa puas. Walan
yamla’a faahu illa turaab, tidak akan ada yang mampu menutupi mulutnya kecuali
tanah. Dalam artian, selama manusia hidup, kalau ia terus menuruti hawa
nafsunya, maka ia tidak akan pernah merasa puas, sampai mulutnya dijejali
dengan tanah, yaitu ketika nyawa berpisah deng jasad. Sungguh mengerika pola
hidup seperti ini, apalagi, cara-cara manusia untuk memenuhi hasrat dan
keinginan pribadinya, dengan menghalalkan segala cara. Tentunya, bukan
sebaik-baik manusia predikat yang akan ia dapatkan, tapi adalah seburuk-buruk
manusia.
Dalam hal ini,
saya mengajak kepada saya sendiri dan kita semua, untuk bisa memanfaatkan
sebaik mungkin, jatah umur yang diberikan kepada kita semua. Karena, kita hidup
hanya sekali. Kalau tidak kita isi dengan perbuatan taat, maka kita mengisinya
dengan kemaksiatan. Kalau tidak kita optimalkan untuk memberikan manfaat, maka
kita akan disukkan dengan agenda-agenda mudharat, minimal mudharat bagi kita
sendiri. Jangan sampai, kelak di kemudian hari, ketika 4 pertanyaan itu
ditanyakan kepada kita, kita tidak bisa menjawabnya dikarenakan memang kita
tidak melakukan apa-apa di dunia. Allahu a’lam bishawab.
Bandung, 27 Juli 2013 (bertepatan
dengan hari lahir penulis)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar