Sabtu, 27 Juli 2013

Memaknai Umur

Sebuah hadits dari Mu’adz bin Jabal yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabrani memberikan penjelasan pada bahwa ada empat hal yang akan ditanyakan pada kita di yaumil akhir, yaitu tentang umur kemana saja dihabiskan, masa muda untuk apa digunakan, tentang harta dari mana dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmu apa yang ia perbuat dengannya.  Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi garansi bagi seorang hamba, apakah dia akan selamat di akhirat nanti atau tidak, apakah ia akan melangkahkan kakinya ke surga atau ke neraka.
Makna umur bagi seorang hamba laksana modal bagi sebuah usaha. Tanpa modal, sebuah usaha tidak akan berjalan. Begitu juga manusia, tanpa umur apalah ia. Ia tidak memiliki dimensi yang dapat memberikannya elan vital dalam menjalankan amanahnya sebagai hamba dan khalifatullah. Allah memberikan umur pada manusia untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia berjalan beriringan bersama nyawa yang Allah tiupkan pada manusia. Ia bagian tak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Meskipun waktu, sulit kita definisikan bentuk dan pengertiannya seperti apa.
Dalam perjalanan masa dan manusia, kita banyak melihat contoh, bagaimana para manusia terdahulu menghabiskan umur mereka. Ada manusia yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan, ada juga yang bergelimang kelalaian, juga ada yang bergelimang kemaksiatan. Kita tinggal memilih, model penghabisan umur mana yang akan kita tiru, dan tentunya kita harus paham dengan konsekuensinya. Fir’aun yang menghabiskan umurnya dengan pembangkangan, akan mendapatkan pembalasan yang mengerikan. Di akhirat disiksa, di dunia dinista dengan ditenggelamkan. Para nabi mengisi umur mereka dengan dakwah dan ketaatan, mendapatkan jaminan terbaik dari Allah di akhirat kelak.
Manusia, melintas mengisi ruang waktu dan sejarah. Ada yang menjadi manusia yang unggul dan tercatat dalam sejarah, ada juga pembangkang yang tercatat dalam sejarah dengan tinta darah, juga ada manusia yang alpa akan sejarah. Hidupnya hanya sambil lalu, ala kadarnya, wujuduhu ka ‘adamihi. Adanya seperti tidak adanya. Dua model terakhir ini yang harus dihindari. Sayyid quthb mengatakan, bahwa orang yang hidup untuk dirinya sendiri, maka ia akan menjadi orang kecil dan usianya begitu pendek. Tetapi orang yang hidup untuk orang lain, maka ia akan menjadi orang besar dan memiliki usia yang panjang, jauh melebihi usia dia sebenarnya.
Inilah yang harus kita pahami, bahwa parameter kebermanfaatan umur kita adalah sejauh mana kita bisa memberikan sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain. Khairun naas anfa’uhum linnas. Sebaik2 manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat pada manusia yang lain. Semakin banyak orang yang merasakan manfaat dari kehadiran kita, maka bisa disimpulkan bahwa semakin baiklah kulaitas hidup kita. Begitupun sebaliknya. Maka, jika ada orang yang sibuk hanya untuk dirinya sendiri, maka perlu dipertanyakan, untuk apa dia hidup? Hidup seperti itu, laksana kita mengisi segelas air, kemudian kita minum dan habiskan, kita isi lagi, kita minum dan habiskan lagi. Tidak akan ada ujungnya. Hanya kepuasan individu yang kita tak tahu, entah kapan kita akan merasakan puas dengan model dan pola hidup seperti itu.
Rasulullah pernah mengatakan bahwa kalau manusia memiliki satu buah gunung emas, maka dia akan meminta gunung emas yang kedua, ia tidak akan pernah merasa puas. Walan yamla’a faahu illa turaab, tidak akan ada yang mampu menutupi mulutnya kecuali tanah. Dalam artian, selama manusia hidup, kalau ia terus menuruti hawa nafsunya, maka ia tidak akan pernah merasa puas, sampai mulutnya dijejali dengan tanah, yaitu ketika nyawa berpisah deng jasad. Sungguh mengerika pola hidup seperti ini, apalagi, cara-cara manusia untuk memenuhi hasrat dan keinginan pribadinya, dengan menghalalkan segala cara. Tentunya, bukan sebaik-baik manusia predikat yang akan ia dapatkan, tapi adalah seburuk-buruk manusia.
Dalam hal ini, saya mengajak kepada saya sendiri dan kita semua, untuk bisa memanfaatkan sebaik mungkin, jatah umur yang diberikan kepada kita semua. Karena, kita hidup hanya sekali. Kalau tidak kita isi dengan perbuatan taat, maka kita mengisinya dengan kemaksiatan. Kalau tidak kita optimalkan untuk memberikan manfaat, maka kita akan disukkan dengan agenda-agenda mudharat, minimal mudharat bagi kita sendiri. Jangan sampai, kelak di kemudian hari, ketika 4 pertanyaan itu ditanyakan kepada kita, kita tidak bisa menjawabnya dikarenakan memang kita tidak melakukan apa-apa di dunia. Allahu a’lam bishawab.

Bandung, 27 Juli 2013 (bertepatan dengan hari lahir penulis)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar