Bandung, katanya ibu kota dakwah. Begitulah apa yang saya tangkap dari sebuah foto besar yang terpampang di lobby sebuah kantor partai di kota Bandung. "Seandainya belum ditetapkan di dalam undang-undang bahwa Ibu Kota negra Indonesia adalah Jakarta, maka layaklah Bandung sebagai ibukota NKRI. Tapi di sini saya katakan, Bandung layak menjadi ibu kota dakwah". Begitulah kurang lebih, tulisan dari sebuah foto besar dengan latar gambar muassis dakwah di Indonesia, Ust. Hilmi Aminuddin. Betapa tidak, dakwah Islamiyah dalam tataran kampus, mulai tersemai di Kota ini pada kisaran tahun 80an, dengan sebuah pelatihan fenomenal, LMD yang digagas oleh Bang Imad.
Terlepas dari itu, ada sebuah kabar gembira yg datang dari Bandung. Mungkin ini juga jadi headline berita-berita nasional, ketika pasangan Ridwan Kamil dan Oded M. Danial memenangkan kontestasi pemilihan walikota Bandung masa jabatan 2013-2018. Eebuah kemenangan yang menghenyakkan mungkin bagi para rival, dan kemenangan yang sangatmenggembirakan bagi para pendukung, termasuk saya, hehe. Betapa tidak, kemenangan ini begitu fenomenal dengan raihan suara 45%, unggul jauh dari para pesaingnya yang terccer di angka belasan persen. Angka 45 persen juga sebetulnya mampu mengalahkan raihan prosentase suara jokowi-ahok di putaran pertama yang meraih 42 persen suara. Sebuah kemenangan yang membanggakan, mengahrukan, menimbulkan harapan yang meluap dan menggelegak. Hal ini tidak lepas dari pengalaman yang kurang mengenakkan pada 2009 lalu, yang mana calon yang saya dukung, harus tersungkur oleh pasangan incumbent saat itu yang didukung oleh seluuh partai politik yang ada, kecuali satu partai, yaitu partai saya, hehe lagi.
Satu hari sebelum pemilihan, saya membuat status di BBM, "Insya Allah, besok Bandung Raya akan pecah telor", dan alhamdulillah memang kenyataannya begitu. Sampai saat itu, belum ada satupun kabupaten/kota yang ada di wilayah Bandung Raya, yang pilbup/pilwalkotnya sanggup kami menangkan. Dua kali kontestasi di KBB kalah, Kabupaten Bandung begitu pula meskipun bisa sampai dua putaran, di Cimahi dua kali tersungkur, meskipun pasangan Supiyardi-Encep mampu memberikan perlawanan sengitu dengan hanya selisih enam ribu suara. Kemenangan di Kota Bandung, tentunya mampu menghilangkan dahaga yang kami rasakan sejak belasan tahun lalu dan selayaknya oase di gurun pasir yang mampu memberikan semangat dan tenaga yang berlipat.
Pada saat akan berangkat menuju Trans Luxury hotel, tempat yang digunakan tim media centre untuk melakukan penghitungan quick count, saya dan Kang Hendri, konsultan politik pasangan Ridwan-Oded, masih merasakan harap-harap cemas. Meskipun di beberapa survei dinyatakan unggul, tapi masih dalam jarak yang tidak begitu jauh, apalagi dengan kekhawatiran terjadinya politik uang dan sebagainya, masih menyisakan kecemasan dalam hati ini. Sampai ketika di mobil dan mendengar report dari PR FM, yang memberitakan keunggulan pasangan nomor 4 di banyak tempat, muali harapan itu mencuat. Mulai memasuki ballroom tempat penghitungan quick count, tampak sudah banyak dipenuhi para pendukung dan simpatisan. Tampak juga, ketua saya Kang Andri, yang memang saya aktif di salah satu lembaga sayap partai, sudah berada di tempat. Para pimpinan partai, relawan awak media dan banyak lagi masyarakat yang hadir. Sampai pengumuman hasil quick count, tanpa diduga oasangan kami unggul jauh dari lawan-lawannya. Alhamdulillah. Perbedaan suara mencapai hampir 300an ribu suara. Dan ini juga menyulitkan pihak lawan untuk melakukan perlawanan di MK yang, memang kela kemudian pasangan kami mampu mengalahkan gugatan mereka di MK 3 pekan berijutnya. Kegembiraan meluap. Tidak sedikit yang sampai mengeluarkan isak tangis, arau hanya sekedar berkaca-kaca pada saat sesi do'a kemenangan.
Di satu sisi kemenangan, tapi di sisi lain tanggung jawab besar menanti. Pasangan ini harus sanggup membuktikan dan melunasi janji-janji politiknya. Harapan warga Bandung sangat besar, dan ini harus dibayar dengan tanggung jawab dan kerja keras. Membangun Bandung yang penuh masalah; banjir, macet, sampah, semerawut, bukan hal yang mudah. Namun, Kang Emil memberikan garansi. Membenahi Bandung yang penuh dengan masalah, seperti minum obat. Tiga tahun pertama, dampak obat mulai terasa sudah ada perbaikan meski masih terasa kurang nyaman. Lima tahun sudah jauh lebih baik, dan 10 tahun, sudah sempurna kenyamanan. Begitu lebih kurang jaminan atau garansi yang beliau berikan. Yang pasti, pasangan ini akan berusaha bekerja keras untuk menjawab tantangan dan kepercayaan yang diberikan oleh warga Bandung. Semoga, Bandung ke depan akan kembali pada kejayaannya sebagai Kota Internasional, layaknya puluhan tahun silam. Sabisa-bisa, kudu bisa, insya Allah pasti bisa!
Di satu sisi kemenangan, tapi di sisi lain tanggung jawab besar menanti. Pasangan ini harus sanggup membuktikan dan melunasi janji-janji politiknya. Harapan warga Bandung sangat besar, dan ini harus dibayar dengan tanggung jawab dan kerja keras. Membangun Bandung yang penuh masalah; banjir, macet, sampah, semerawut, bukan hal yang mudah. Namun, Kang Emil memberikan garansi. Membenahi Bandung yang penuh dengan masalah, seperti minum obat. Tiga tahun pertama, dampak obat mulai terasa sudah ada perbaikan meski masih terasa kurang nyaman. Lima tahun sudah jauh lebih baik, dan 10 tahun, sudah sempurna kenyamanan. Begitu lebih kurang jaminan atau garansi yang beliau berikan. Yang pasti, pasangan ini akan berusaha bekerja keras untuk menjawab tantangan dan kepercayaan yang diberikan oleh warga Bandung. Semoga, Bandung ke depan akan kembali pada kejayaannya sebagai Kota Internasional, layaknya puluhan tahun silam. Sabisa-bisa, kudu bisa, insya Allah pasti bisa!
satuju pisan lur hayu atuh urang teh reuk aksi ....
BalasHapus